Pertemuan Sosialisasi Tatalaksana Pneumonia Petugas Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Tahun 2017

Pneumonia salah satu penyebab utama kematian balita, lebih banyak dibandingkan dengan gabungan penyakit AIDS, malaria maupun campak. Diperkirakan 1,1 juta kematian balita setiap tahun disebabkan pneumonia (WHO, 2012), dan diperkirakan 2 balita meninggal setiap menit karena pneumonia (WHO,2013). Tiga per empat kasus pneumonia di dunia terdapat di 15 negara dan Indonesia menduduki peringkat ke-6.

Kematian balita akibat pneumonia pada umumnya disebabkan oleh lambatnya balita tersebut dibawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pengobatan. Perjalanan penyakit pneumonia hingga terjadi kematian dapat berlangsung sangat cepat, sekitar 4 jam sampai 2 hari, sehingga penanganan yang cepat dan pengobatan yang tepat merupakan kunci pencegahan kematian dan  komplikasi pneumonia dengan penyakit lainnya. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan berbagai upaya yang diarahkan pada :

  • Peningkatan kesiapan sarana kesehatan dalam tatalaksana kasus dan penyelamatan atau life saving kasus pneumonia

  • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam tatalaksana kasus secara cepat dan tepat

  • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam deteksi dini kasus pneumonia balita di rumahtangga dan dalam pencarian pengobatan yang tepat bagi kasus pneumonia balita

Berdasarkan laporan, hasil cakupan kasus pneumonia tahun 2014 adalah 51,65%, masih jauh dari target 100%. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya capaian adalah kapasitas petugas dalam melakukan deteksi dini kasus yang masih kurang, sistim pelaporan yang belum optimal, keterbatasan dana operasional di daerah dan mutasi pegawai terlatih yang sering terjadi.

Untuk meningkatkan capaian cakupan kasus pneumonia dan mengatasi permasalahan tersebut, maka Dinas Kesehatan melalui support dana dekonsentrasi tahun 2017 mengadakan Sosialisasi Tatalaksanan Pneumonia Bagi Petugas Kabupaten/kota dan Puskesmas yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 22 s.d. 24 Mei 2017 di Hotel Lombok Garden Mataram.

Peserta pertemuan adalah pengelola program P2 ISPA di kabupaten/kota yang terdiri dari kepala seksi P2, pengelola program ISPA, pengelola program surveilans dan dokter puskesmas terpilih, sedangkan peserta provinsi terdiri dari lintas sektor dan lintas program yakni RSUD Provinsi NTB, Biro Kessos setda Provinsi NTB, kepala seksi KIA, kepala seksi Promkes, kepala seksi kesehatan rujukan, kepala seksi PL, kepala seksi imunisasi dan kesehatan bencana dan pengelola program ISPA Dinas Kesehatan Provinsi NTB.

Pertemuan diisi dengan pemaparan dari subdit ISPA Kemenkes RI sebagai narasumber pusat dan Kepala Bidang P3KL sebagai narasumber Provinsi. Pada pertemuan juga disepakati beberapa hal yang menjadi poin penting untuk ditindaklanjuti :

  • Mengintegrasikan program secara kontinu dengan program lain seperti program MTBS, ASI Esklusif, program imunisasi dan program lainnya yang berkaitan dengan balita

  • Melakukan pelatihan bagi tenaga ISPA terutama bagi petugas yang belum mendapat pelatihan atau terpapar MTBS dan ISPA

  • Melakukan advokasi untuk pembiayaan/anggaran ISPA terutama untuk pengadaan sarana prasarana ISPA dan pertemuan berkala petugas/pengelola program ISPA Puskesmas dengan dinas kesehatan kabupaten/kota

  • Meningkatkan sosialisasi di tingkat Puskesmas terkait ISPA/pneumonia

  • Pencatatan dan pelaporan kasus ISPA sesuai tanggal yang ditentukan

Foto Kegiatan :

Mungkin Anda Menyukai

Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook