KERACUNAN PANGAN PROVINSI NUSA TEANGGARA BARAT

KERACUNAN PANGAN

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

A. KERACUNAN PANGAN

Peta Keracun Pangan Tahun 2014 sampai dengan 2016

Kejadian keracunan pangan di Provinsi NTB terjadi setiap tahun di beberapa kabupaten kota di NTB sehingga perlu untuk mengantisipasi kejadian keracunan pangan. Kejadian keracunan Pangan cukup sering terjadi Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2014 s/d 2016 tercatat 52 kali kejadian, diantaranya tahun 2014 sebanyak 15 kali, 2015 sebanyak 23 kali, 2016 sebanyak 14 kali.  Kemungkinan Faktor kehidupan Sosial Budaya masyarakat salah satunya terkait dengan tingkat kejadian keracunan Pangan. Budaya makan bersama saat perayaan tertentu, pesta pernikahan, syukuran, sampai jamuan makan besar-besaran pasti sering kita jumpai di seluruh pelosok wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Permasalahannya bukan pada Budaya masyarakat yang namun cara pemilihan bahan pangan, pengolahan, penyimpanan, bentuk dan waktu penyajian Panganlah yang harus menjadi perhatian kita bersama Pengolahan Pangan secara tradisional relatif tidak menjadi masalah bila kebersihan dan sanitasi tempat pengolahan telah memenuhi syarat kesehatan.

B. Jenis-Jenis Keracunan Pangan

Grafik Kejadian keracunan pangan tahun 2014 s/d 2016 berdasarkan jenis keracunan

Jenis keracunan pangan yaang sering terjadinya yaitu keracunan pangan nasi bungkus biasanya terjadi pada acara sukuran dan hajatan warga. Berdasarkan jenis penyebabnya keracunan pangan dapat dibagi menjadi 2, yaitu keracunan pangan karena infeksi dan racun. Keracunan pangan karena infeksi, disebabkan oleh masuknya kuman penyakit (mikroorganisme patogen) kedalam badan bersama pangan, sehingga menimbulkan reaksi tubuh terhadap kuman tersebut.
Keracunan Pangan disebabkan karena memakan bahan beracun yang terdapat pada jaringan tumbuh-tumbuhan atau hewan, yang diproduksi oleh kuman (virus, bakteri, parasit) atau terpapar racun lain yang sengaja atau tidak sengaja terdapat dalam pangan.

C. Gejala, Tanda-Tanda Penyakit serta Kemungkinan Penyebab

Seorang yang terpapar racun, terutama melalui Pangan, maka racun akan dapat beredar dalam tubuh, peredaran darah, organ-organ tubuh. Badan akan bereaksi terhadap masuknya racun dengan menunjukkan gejala (dikeluhkan oleh penderita) dan tanda-tanda penyakit (terlihat atau teraba). Adanya racun dalam organ tubuh sendiri dapat dideteksi dengan adanya perubahan pada organ tersebut, atau ditemukannya bahan racun, pemeriksaan dilakukan dengan sarana pendukung pemeriksaan laboratorium. Pada keracunan pangan sering gejala utamanya diare dan muntah serta beberapa gejala lain sebagai contoh adalah Vibrio hemolitikus menunjukkan gejala nyeri perut, mual, muntah, diare, menggigil, sakit kepala, dan kadang-kadang badan panas.
Clostidium perfringens menunjukkan gejala mual, muntah, nyeri perut, diare, badan letih/lemas, Shigella dysentriae menunjukkan gejala diare hebat berlendir dan berdarah, nyeri perut, panas badan dan sakit kepala.

D. Beberapa Jenis Penyebab Keracunan yang sering terjadi di Masyarakat :

  1. TOKSIN FUNGI/ JAMUR
    • Penyebab : senyawa mirip resin dalam beberapa jenis jamur

    • Masa Inkubasi :30 menit sampai 2 jam

    • Tanda dan gejala :Mual, muntah, diare,kejang perut jenis

    • Jenis Jamur : Banyak jenis jamur liar

    • Faktor kontribusi : Memakan jenis jamur yang tidak diketahui, mengkonsumsi jamur beracun yang dikira dapat dimakan

  2. TOKSIN BAKTERI Keracunan Bacillus cereus
    • Penyebab : Enterotoksin B. cereus. Mikroba di dalam tanah

    • Masa Inkibasi : ½ sampai 5 jam

    • Tanda dan Gejala : Mual, muntah, kadangkadang diare

    • Jenis Pangan yang terlibat : Nasi masak atau goreng

    • Faktor yang berkontribusi : menyimpan Pangan matang pada suhu ruang terlalu lama atau menyimpan Pangan dalam kulkas dengan wadah besar, serta menyiapkan Pangan beberapa jam sebelum dihidangkan

  3. Keracunan bongkrek
    • Penyebab : Asam bongkrek dan toxoflavin yang dihasilkan oleh Burkholderia cocovenenans (d/h Pseudomonas cocovenenans)

    • Masa Inkubasi : 4 sampai 6 jam

    • Tanda dan Gejala : Malaise, sakit perut, pusing, terus berkeringat, letih, mengantuk hingga koma akibat hiperglisemia dan disusul hipoglisemia hebat

    • Jenis Pangan yang terlibat : Tempe bongkrek, tepung yang basah

    • Faktor yang berkontribusi: Memakan tempe bongkrek yang terkontaminasi Burkholderia Cocovenenans

  1. Kolera
    • Penyebab : Enterotoksin Vibrio cholerae 01 klasik dan biotipe El Tor , dari feses orang yang terinfeksi

    • Masa Inkubasi : Beberapa jam sampai 5 hari, rata-rata 1 sampai 3 hari

    • Tanda dan Gejala : Diare sangat cair (ricewater stools/ Seperti Air cucian beras), muntah, kejang perut, dehidrasi, haus, jatuh pingsan, kekencangan kulit menurun, jari berkeriput, mata cekung

    • Jenis Pangan yang terlibat : Ikan, kerang-kerangan, udang, sayuran mentah

    • Faktor yang berkontribusi: Pangan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi, memanen ikan dan kerang dari air yang terkontaminasi limbah kotoran di daerah endemik, higiene perorangan yang buruk, orang terinfeksi menangani Pangan, pemasakan yang tidak mencukupi, air terkontaminasi untuk mencuci atau menyegarkan Pangan, sistem pembuangan kotoran yang tidak baik, menggunakan kotoran untuk pupuk.

  2. Disenteri amuba (Amebiasis)
    • Penyebab : Entamoeba histolytica dari feses orang yang terinfeksi

    • Masa Inkubasi : 5 hari sampai beberapa bulan, ratarata 3 sampai 4 minggu

    • Tanda dan Gejala : Sakit perut, konstipasi atau diare, (feses mengandung darah dan lendir)

    • Jenis Pangan yang terlibat : Sayuran mentah, buah – buahan mentah

    • Faktor yang berkontribusi : Higiene perorangan yang buruk, orang terinfeksi menangani Pangan, pemasakan yang tidak mencukupi.

  3. VIRUSHepatitis A (Infeksi hepatitis)
    • Penyebab : Virus hepatitis A dari feses, urin, darah orang atau primata lain yang terinfeksi

    • Masa Inkubasi : 10 sampai 50 hari rata-rata 25 hari

    • Tanda dan Gejala : Demam, malaise, kelelahan, anoreksia, mual, sakit perut, jaundice

    • Jenis Pangan yang terlibat : Kerang mentah, salad, potongan Pangan dingin, Pangan apa saja yang terkontaminasi virus, air

    • Faktor yang berkontribusi : Orang terinfeksi menyentuh Pangan, hygiene personal yang buruk, pemasakan yang tidak mencukupi, memanen kerang dari air/perairan yang terpolusi limbah, system pembuangan yang tidak tepat.
      Itulah beberapa jenis Keracunan Pangan / Keracunan Pangan yang sering terjadi di masyarakat.

D. CARA MENCEGAH KERACUNAN

1. Cuci Tangan dengan Sabun dan Air

Biasakan mencuci tangan Anda sebelum makan dan sesudah buang air besar menggunakan sabun dan air mengalir dengan cara cuci tangan yang benar. Penggunaan antiseptik dapat lebih optimal setelah mencuci tangan.

2. Perhatikan Kemasaan

Apakah kotak atau pembungkus Pangan masih utuh. Kaleng penyok dapat menjadi indikasi penurunan kualitas pada isi Pangan/ minuman dalam kaleng, jadi pilih yang utuh.

3. Perhatikan Tanggal Produksi dan Kadaluarsa.

Saran penyajian serta batas waktu boleh di konsumsi setelah disajikan

4. Warna, Bau, Rasa

Perhatikan sajian Pangan sebelum Anda makan, apakah ada warna yang sangat mencolok (pewarna berbahaya), apakah ada lendir (Pangan basi) ?. Adakah bau yang menyengat pada Pangan basi dan bila Anda ragu tidak ada salahnya jika kita sedikit mencicipi rasa Pangan kita sebelum mulai melahapnya.

5. Penjaja Pangan

Sedikit selektif memilih tempat membeli Pangan bukan sesuatu yang salah, semua dilakukan demi menjaga kesehatan tubuh kita. Tidak membeli Pangan yang dijajakan secara tebuka (tidak dikemas/ tidak tertutup) sehingga tidak terlindung dari debu serta jangkauan lalat.

F. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam dalam pengolahan dan penyajian Pangan

  1. Mencuci dan membersihkan peralatan masak serta perlengkapan makan sebelum dan setelah digunakan.

  2. Menjaga area dapur/tempat mengolah pangan dari serangga dan binatang lainnya.

  3. Tidak meletakkan pangan matang pada wadah yang sama dengan bahan pangan mentah untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.

  4. Tidak mengkonsumsi pangan yang telah kadaluarsa atau pangan dalam kaleng yang kalengnya telah rusak atau menggembung.

  5. Tidak mengkonsumsi pangan yang telah berbau dan rasanya tidak enak.

  6. Tidak mengkonsumsi jamur liar.

  7. Mengkonsumsi air yang telah dididihkan.

  8. Memasak pangan sampai matang sempurna agar sebagian besar bakteri dapat terbunuh. Proses pemanasan harus dilakukan sampai suhu di bagian pusat pangan mencapai suhu aman ( > 70 Derajat Celcius) selama minimal 20 menit.

  9. Menyimpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin (sebaiknya disimpan di bawah suhu 5 Derajat Celcius).

  10. Tidak membiarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam karena mikroba dapat berkembang biak dengan cepat pada suhu ruang.

  11. Mempertahankan suhu pangan matang lebih dari 60 Derajat Celcius sebelum disajikan. Dengan menjaga suhu di bawah 5 Derajat Celcius atau di atas 60 Derajat Celcius, pertumbuhan mikroba akan lebih lambat atau terhenti.

  12. Menyimpan produk pangan yang harus disimpan dingin, seperti susu pasteurisasi, keju, sosis, dan sari buah dalam lemari pendingin.

  13. Menyimpan produk pangan olahan beku, seperti nugget , es krim, ayam goreng tepung beku, dll dalam freezer.

  14. Menyimpan pangan yang tidak habis dikonsumsi dalam lemari pendingin.

  15. Tidak membiarkan pangan beku mencair pada suhu ruang.

  16. Membersihkan dan mencuci buah-buahan serta sayuran sebelum digunakan, terutama yang dikonsumsi mentah.

  17. JIKA TERJADI KERACUNAN PANGAN ATAU CURIGA KERACUNAN PANGAN, JANGAN BUANG SISA PANGAN dan atau MUNTAHAN KORBAN ini akan sangat bermanfaat untuk penyelidikan sumber dan penyebab keracunan.

G. KESIMPULAN

  1. Kasus keracunan di NTB selama tahun 2014 sampai dengan 2016 sebanyak 52 kali diantaranya tahun 2014 sebanyak 15 kali, 2015 sebanyak 23 kali, 2016 sebanyak 14 kali

  2. Seluruh kabupaten kota pernah mengalami kasus keracunan Pangan

  3. Kejadian keracunan Pangan terjadi paling banyak di kabupaten lombok tengah sebanyak 16 kali kejadian

  4. Kasus keracunan yang paling banyak yaitu keracunan nasi bungkus sebanyak 26 kali kejadian, dimana semua kasus keracuunan nasi bungkus tidak dimakan langsung dan dimakan keesokan hari sehingga dapat menyebabkan perkembangan bakteri akibat dari penyimpanan Pangan yang tidak benar contoh pada acara sukuran nasi “Berkat”  sukuran tidak langsung dikonsumsi tapi sebagian besar dikonsumsi untuk sarapan

One thought on “KERACUNAN PANGAN PROVINSI NUSA TEANGGARA BARAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *