PELATIHAN SKRINING PENYALAHGUNAAN NAPZA MENGGUNAKAN ASSIST

Masalah penyalahgunaan Napza merupakan masalah kompleks yang terdiri dari masalah bio-psiko-sosio-kultural maka perlu dilakukan intervensi yang tidak hanya dari satu aspek saja, tapi perlu melibatkan berbagai aspek lainnya. Penanggulangan masalah penyalahgunaan Napza harus dimulai dari promotif-preventif hingga kuratif dan rehabilitasi.

Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan beberapa fasilitas layanan kesehatan sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) untuk menerima pasien dengan gangguan penyalahgunaan Napza. Pelaku penyalahgunaan Napza seringkali datang ke suatu layanan tidak terkait dengan penggunaan Napzanya atau tidak terungkap karena penyalahgunaan Napza, tetapi dengan keluhan seperti penyakit gastrointestinal, asma atau kecelakaan karena pengaruh alkohol atau Napza.

Berdasarkan survei Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2014 diperkirakan 33 orang korban meninggal per hari karena penyalahgunaan narkoba/napza. Kerjasama antara BNN dan Universitas Indonesia menemukan bahwa sepanjang tahun 2014 sekitar 4 juta orang merupakan pengguna narkoba, 1,6 juta orang diperkirakan pernah mencoba narkoba, 1,4 juta orang rutin mengkonsumsi narkoba dan 943 ribu orang menjadi adiksi. Sebagian besar pengguna Napza adalah usia produktif (10-59 th), 50,34% memiliki pekerjaan dan hampir 75% berjenis kelamin laki-laki. Sepanjang tahun 2014 juga dilaporkan bahwa 12.044 orang meninggal akibat narkoba.

Proyeksi Provinsi NTB sebagai salah satu destinasi wisata rentan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Diperkirakan di Provinsi NTB prevalensi penyalahgunaan narkoba pada tahun 2014 adalah 1,5% atau sekitar 72.000 orang dan menempati urutan 18 tertinggi di Indonesia. Provinsi urutan pertama tertinggi adalah Jawa Barat dengan estimasi prevalensi hampir mencapai 4,5%.

Salah satu upaya pencegahan masalah penyalahgunaan Napza adalah melalui skrining atau deteksi dini dengan menggunakan instrument tertentu. Salah satu intsrumen untuk skrining adalah ASSIST (Alkohol, Smoking and Substance Involvement Screening Test). Skrining ASSIST adalah skrining pertama yang mencakup semua zat psikoatif dengan menggunakan kuisionerĀ  yang telah dikembangkan pada tahun 1997 oleh WHO dan peneliti spesialis adiksi. ASSIST dirancang khusus untuk dapat digunakan oleh petugas kesehatan dalam lingkup pelayanan kesehatan termasuk di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan/kapasitas petugas di FKTP dalam penggunaan instrument ASSIST adalah melalui pelatihan. Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi NTB mengadakan pelatihan skrining Napza dengan menggunakan ASSIST.

Pelatihan dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 10 -13 Juli 2017 di hotel Lombok Plaza Mataram. Peserta pelatihan 25 orang, merupakan dokter dan perawat Puskesmas dari 10 kabupaten/kota Se-NTB serta pengelola program Napza bagi kabupaten/kota yang memiliki RS IPWL. Narasumber berasal dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTB dan Kepala Bidang P3KL, sedangkan fasilitator berjumlah 4 orang termasuk MOT terdiri dari fasilitator pusat yang diwakili Kepala Seksi Penyalahgunaan Napza`di Institusi Subdit Napza Kemenkes RI dan fasilitator provinsi dari BNN Provinsi NTB dan RSJ Mutiara Sukma. Tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat melakukan skrining di wilayah kerja masing-masing serta mampu menemukan atau menjangkau kelompok/individu yang resiko tinggi penyalahgunaan Napza. Harapan mencapai GENERASI EMAS NTB dapat terwujud apabila generasi bebas Narkoba… So SAY YES TO ASSIST and SAY NO TO DRUG…

Dokumentasi Kegiatan