Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Bersama Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Malaria ”Reaching The Zero Malaria Target”

Tanggal 25 April diperingati  sebagai Hari Malaria Sedunia (World Malaria Day) yang ditetapkan melalui sidang kesehatan dunia milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) oleh World Health Assembly (WHA), tepatnya pada 23 Mei 2007 di Jenewa, Swiss. Sebagai upaya mensosialisasikan pendidikan dan pemahaman akan penyakit malaria.

Peringatan Hari Malaria Sedunia tahun ini mengusung tema “Reaching The Zero Malaria Target” (Bersama Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Malaria). Pelaksanaannya dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah-pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan dan masyarakat guna mencapai Indonesia bebas malaria tahun 2030 dan bersatu melawan malaria dan Covid-19 untuk Indonesia Sehat.

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun ini sangat berpengaruh dalam seluruh aspek kehidupan. Semua perhatian terkonsentrasi penuk  terhadap penanggulangan Covid-19. Namun, perlu kita ingat bahwa masih banyak masalah kesehatan lain yang juga seharusnya menjadi perhatian kita semua salah satunya penyakit yang ditularkan melalui vektor binatang (vector borne diseases) seperti malaria.

Penyakit malaria ini sudah lama ada bahkan sudah dikenal sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu jauh sebelum Covid-19 ini muncul.  Malaria merupakan penyakit reemerging, yakni penyakit yang menular kembali secara massal. Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh parasite dan ditularkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, penderita malaria di seluruh dunia mencapai 228 juta pada tahun 2018, dengan sekitar 405.000 kematian akibat malaria di dunia. Jumlah ini menurun dari 251 juta pada tahun 2010 dengan 416.000 kematian dan 231 juta  kasus pada tahun 2017 dengan 585.000 kematian di dunia.  Lebih dari 90% kasus dan kematian akibat malaria ini terjadi di benua Afrika. Tetapi Indonesia menempati urutan kedua di Asia Tenggara dengan kasus malaria tertinggi setelah India.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia adalah membebaskan masyarakat dari malaria karena malaria merupakan salah satu penyakit menular yang berdampak kepada penurunan kualitas sumber daya manusia, dapat menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi bahkan berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Oleh karena penyebaran malaria tidak mengenal batas wilayah administrasi, maka membebaskan masyarakat dari malaria (eliminasi malaria) memerlukan komitmen global, regional dan nasional.

Pemerintah Indonesia bertekad untuk mencapai Indonesia bebas Malaria pada tahun 2030 dengan menargetkan sebanyak 405 Kabupaten/Kota di Indonesia pada periode 2020 – 2024 sudah eliminasi malaria. Pasalnya hingga saat ini penyebaran Covid-19 di Indonesia juga semakin meluas hingga ke daerah endemis malaria.

Di era pandemi Covid-19 saat ini menjadi tantangan tersendiri difasilitas pelayanan kesehatan karena Malaria dan Covid-19 memiliki gejala yang mirip seperti demam, sakit kepala dan nyeri otot.

Langkah cepat deteksi malaria harus segera dilakukan dengan menerapkan protocol pencegahan Covid-19 untuk memperkecil kemungkinan gejala yang semakin berat jika pasien terpapar Covid-19 . Saat ini pemerintah telah mengembangkan pemeriksaan diagnostic malaria dapat dilakukan dengan rapid diagnostic test (RDT) yang telah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Pasien dapat segera diberikan pengobatan bila hasil RDT positif.

Malaria dapat menulari seseorang baik di luar rumah maupun di dalam rumah. Sama halnya dengan Covid-19 kita mengenalnya dengan cluster perumahan, yang artinya walau di dalam rumah kita juga harus melakukan upaya pencegahan yang baik agar tidak tertular malaria atau Covid-19. (Asti Entomolog).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.