Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Mengenal Penyakit Thalasemia

Apa itu Thalasemia?

Thalasemia merupakan kelainan darah yang diturunan yang disebabkan oleh kelainan hemoglobin (akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin) yang menyebabkan kerusakan pada sel darah merah sehingga penderitanya mengalami anemia atau kurang darah (Marnis, Indriati, & Nauli, 2018).

Apa Saja Klasifikasi Thalasemia?

Klasifikasi dari penyakit thalassemia menurut Hockenberry & Wilson (2009)  yaitu :

  1. Thalasemia Minor

Thalasemia minor merupakan keadaan yang terjadi pada seseorang yang sehat namun orang tersebut dapat mewariskan gen Thalasemia pada anak-anaknya.  Penderita tidak memerlukan transfusi darah dalam hidupnya.

2. Thalasemia Intermedia

Thalasemia intermedia merupakan kondisi antara Thalasemia mayor dan minor. Penderita Thalasemia ini mungkin memerlukan transfusi darah secara berkala, dan penderita Thalasemia jenis ini dapat bertahan hidup sampai dewasa

3. Thalasemia Mayor

Thalasemia jenis ini sering disebut Cooley Anemia dan terjadi apabila kedua orangtua mempunyai sifat pembawa Thalasemia (Carrier). Anak-anak dengan Thalasemia mayor tampak normal saat lahir, tetapi akan menderita kekurangan darah pada usia 3-18 bulan. Penderita Thalasemia mayor akan memerlukan transfusi darah secara berkala seumur hidupnya dan dapat meningkatkan usia hidup hingga 10-20 tahun. Namun apabila penderita tidak dirawat penderita Thalasemia ini hanya bertahan hidup sampai 5-6 tahun (Potts & Mandleco, 2007).

Apa Saja Gejala Thalasemia?

  • Penderita thalassemia akan mengalami gejala anemia seperti : mudah lelah dan lemas, namun pada penderita thalassemia minor anemia bisa tidak terjadi.
  • Pada thalassemia mayor umumnya menunjukkan gejala seperti : badan lemah, kulit kekuningan (jaundice), urin gelap, cepat lelah, denyut jantung meningkat, tulang wajah abnormal dan pertumbuhan terhambat serta permukaan perut yang membuncit dengan pembesaran hati dan limpa.

Bagaimana Mendiagnosis Penyakit Thalasemia?

Thalasemia  dapat diketahui melalui gejala yang timbul dan melakukan pemeriksaan darah untuk melihat kelainan sel darah merah dan kelainan genetik penyebab thalassemia.

Apa Saja Pengobatan Thalasemia?

Pengobatan thalassemia tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya.  Standar Pengobatan Thalasemia (Children’s Hospital & Research Center Oakland, 2005) adalah :

  1. Transfusi darah untuk penderita thalassemia sedang atau berat.
  2. Terapi Khelasi Besi (Iron Chelation), untuk mencegah kerusakan organ yang disebabkan penumpukan zat besi dalam darah akibat transfusi.

Ada dua jenis obat-obatan yang digunakan menurut National Hearth Lung and Blood Institute (2008) yaitu :

  • Deferoxamine, merupakan obat cair yang diberikan melalui bawah kulit secara perlahan-lahan.   Obat ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan dan pendengaran.
  • Deferasirox adalah pil yang dikonsumsi sekali sehari, obat ini dapat menyebabkan sakit kepala, mual, muntah, diare, sakit sendi, dan kelelahan.

3. Suplemen Asam Folat

Asam folat adalah vitamin B yang dapat membantu pembangunan sel-sel darah merah yang sehat. Suplemen ini harus tetap diminum di samping melakukan transfusi darah ataupun terapi khelasi besi.

4. Transplantasi sum-sum tulang belakang /Bone Marrow Transplantation (BMT)

5. Pendonoran darah tali pusat (Cord Blood), darah yang ada di dalam tali pusat dan plasenta. dan relatif sederhana (Okam, 2001).

6. HLA (Human Leukocyte Antigens), adalah protein yang terdapat pada sel dipermukaan tubuh.

Apa Saja Komplikasi Thalasemia?

Penyakit thalasemia dapat menyebabkan komplikasi berupa gangguan tumbuh kembang, kerusakan tulang, hingga penyakit jantung. Selain itu, penanganan thalasemia dengan transfusi berisiko menimbulkan penumpukan zat besi di dalam tubuh penderita.

Apa Saja Komplikasi Thalasemia?

Akibat dari anemia kronis dan transfusi berulang penderita akan mengalami kelebihan zat besi yang akan tertimbun di setiap organ, terutama otot jantung, hati, kelenjar pankreas, dan kelenjar pembentuk hormon lainnya yang akan mengakibatkan komplikasi lebih lanjut

Penulis : Reny Yuli Aspiani., S.Kep. Ns., M.Pd

Referensi :

Arman, S. dan Moallemi, Sh. 2005. Handbook of Pediatric Hematology and Oncology: Children’s Hospital &. Research Center Oakland, Second edition.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.