Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Dinas Kesehatan Provinsi NTB Kolaborasi Dengan FHF dan PERDAMI : Identifikasi Hambatan Akses Pelayanan Mata

Dinas Kesehatan Provinsi NTB melalui Seksi P2PTM, Keswa dan NAPZA Bidang P2P berkolaborasi dengan dengan FHF (Fred Hollows Foundation) dan PERDAMI NTB (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia) dalam upaya menurunkan tingkat gangguan penglihatan di kalangan masyarakat yang paling beresiko melalui suatu penelitian yang dilakukan oleh CSIS (Centre for Strategic and International Studies) dan peneliti dari tiga perguruan tinggi negeri (Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya dan Universitas Mataram) yang memiliki pengalaman luas dalam meneliti isu gender dan interseksionalitas yang bersifat pragmatis, akademis dan juga ilmiah.

Seminar Hasil Penelitian “Mengidentifikasi Hambatan Terhadap Akses Pelayanan Kesehatan Mata di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)”, dilaksanakan pada hari Kamis, 10 Maret 2021 di Aula Bakti Husada Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Penelitian ini berlokasi di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur. Disetiap area, peneliti melaksanakan serangkaian FGD (Focus Group Discution) dan wawancara mendalam dengan masyarakat disetiap area tersebut guna mengumpulkan data mengenai pengalaman dan pandangan tentang hambatan interseksionalitas, penyediaan layanan kesehatan mata, persepsi penyerapan dan fasilitas layanan dan akses ke layanan perawatan mata primer.

Peneliti juga melakukan pengamatan secara langsung dan mengidentifikasi rekomendasi untuk meningkatkan akses ke pelayanan perawatan mata primer dengan menemani pasien katarak dari rumah mereka ke puskesmas.

Secara umum hasil pengamatan tim.peneliti bahwa di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur, pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan mata tidak akan mencapai target jika masalah-masalah yang berbasiskan gender tidak diselesaikan.

Oleh karena itu langkah mendesak untuk meningkatkan perawatan mata menyeluruh di NTB diantaranya adalah  :

  1. Dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan mata khususnya pada perempuan .
  2. Dengan mendekatkan akses pemeriksaan kepad perempuan, lansia, dan difabel karen mereka termasuk dalam kelompok yang secara tidak proporsional terpengaruh dalam mendapatkan akses kesehatan.  Faktor sosial ekonomi yang menjadi kendala perlu dipecahkan  seperti pemberian konseling untuk mendorong kepatuhan pasien, transportasi dan dukungan keluarga.

Analisis dari tiga lokasi telah mengidentifikasi beberapa bidang prioritas intervensi utama guna meningkatkan pelayanan perawatan mata dan kapasitas pelayanan kesehatan mata untuk orang-orang yang paling beresiko.

Studi ini memberikan kontribusi bahwa pendekatan interseksionalitas sebenarnya bermanfaat utk mengidentifikasi aspek multifaktor yang memunculkan ketidaksetaraan gender dalam kesehatan mata, termasuk mendukung evaluasi implementasi kebijakan.

Penulis : Made Armeni Sedana Puteri, SKM

Editor : Reny Yuli Aspiani, S.Kep.Ns. M.Pd

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.