Kadinkes NTB Berikan Materi Penanganan Stunting pada Kuliah Umum Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Permasalahan stunting menjadi masalah yang serius bagi negara karena memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang.  Pada pertengahan 2023 Kemenkes RI mempublikasi prevelensi stunting di Indonesia 21,6%, sementara target yang ingin dicapai adalah 14% pada tahun 2024. Untuk mencapai target tersebut maka diperlukan upaya semaksimal mungkin dari semua pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah hingga pelajar. Peran pelajar sangat penting dalam membantu mengurangi angka stunting. Karena mereka merupakan calon orangtua yang menglahirkan generasi penerus bangsa.

”Gizi pada balita menjadi masalah krusial yang masih dihadapi Indonesia hingga saat ini sehingga memerlukan langkah-langkah yang terstruktur dalam upaya penanganannya. Stunting dapat ditanggulangi sejak awal dengan merencanakan kehamilan, memastikan ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup dan memantau perkembangan janin di fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu lingkungan juga merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.  Untuk itu keluarga harus memiliki kesadaran untuk memprioritaskan asupan gizi yang cukup dan menjaga kebersihan tempat tinggal.” ujar Dr. Fikri, saat mengisi kuliah umum dengan tema Upaya Penanggulangan dan Pemberdayaan Masyarkat pada Masalah Gizi.

Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 16 April 2024 yang dihadiri mahasiswa Fakultas Kedokteran Semester 2 Universitas Mataram menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. L. Hamzi Fikri, MM., MARS sebagai narasumber.

Lebih lanjut Dr. Fikri mengungkapkan bahwa dalam penanganan stunting di NTB, Puskemas melalui kader posyandu mendata anak-anak stunting di NTB by name by address, sehingga intervesi yang dilakukan dalam menangani anak-anak stunting tepat sasaran.  

Dr. Fikri juga menyampaikan bahwa Angka Harapan Hidup di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Di NTB Tingginya angka kematian ibu dan bayi paling banyak terjadi karena hipertensi saat kehamilan, pendarahan dan infeksi.

Terkait dengan masalah sanitasi lingkungan untuk merubah masyarakat yang tadinya buang air besar di kali (tidak menggunakan jamban) butuh intervensi selama 10 tahun sehingga masyarakat bisa menggunakan jamban untuk buang air besarnya. 

Terkait dengan persalinan Dr. Fikri menyebutkan bahwa saat ini tidak ada lagi persalinan di bantu oleh dukun semua dilakukan oleh tenaga kesehatan.

#NTBMajuMelaju #NTBSehatdanCerdas #PemprovNTB ##DinkesProvNTB #DinkesNTB #SahabatSehat #SalamSehat #HumasSehat