Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Masyarakat Berbondong-bondong Dapatkan Layanan Posyandu Masyari Mekar Lombok Timur

Hal ini diungkapkan Ketua kader Posyandu, dihadapan Tim Bimtek Program Posyandu dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB, di lokasi posyandu Masyari Mekar Dasan Tengak, Desa Motong Beter, Kec. Sakra Barat, Kab. Lombok Timur Selasa (4/2/2020). Srianom yang pada hari itu bersama kader lainnya penuh semangat memfasilitasi layanan posyandu bagi masyarakat tersebut menjelaskan, meski Posyandu Masyari Mekar belum ditetapkan sebagai Posyandu Keluarga, namun masyarakat yang datang, baik lansia, bayi maupun balita yang berada diwilayah tersebut sudah semakin sadar untuk memeriksakan kesehatannya secara berkala. Sehingga sesuai jadwal posyandu yang ditetapkan, masyarakat dengan sendirinya datang berbondong-bondong ke posyandu. Capaian Target posyandu tiap bulannya di dusun tersebut hampir 100 persen. Bila ada bayi/balita yang tidak hadir untuk pemberian vitamin A atau sebagainya, kader akan melakukan sweeping pada sore harinya, jelasnya lebih lanjut.

Posyandu Masyari Mekar sendiri merupakan daerah binaan Puskesmas Rensing.Dalam kesempatan itu juga, Nurhayati selaku Kepala Puskesmas Rensing yang turut hadir mendampingi Tim Bimtek Provinsi menjelaskan, diwilayah binaannya terdapat 96 Posbindu dan 19 Posyandu Lansia. Untuk remaja di sekolah biasanya mendapatkan penyuluhan kesehatan melalui kegiatan ceramah oleh DAI Kesehatan setempat. Sementara remaja putus sekolah ikut posyandu secara berkala.
Lebih lanjut dijelaskan, Dusun Rensing Baat direncanakan akan launching Posyandu Keluarga pada bulan Februari ini. Sementara Dusun Gunung Raja Posyandu Keluarga sudah berjalan sejak bulan Agustus 2019 lalu. Selanjutnya Dusun Mengkuru menyusul akan launching, namun kapan waktunya belum ditetapkan. Untuk mendukung program kesehatan, DAI Kesehatan di wilayah Rensing hingga saat ini sejumlah 36 org, ujarnya.

Dijelaskan M. Saleh Isa, SKM., selaku pemegang program Desa Siaga Seksi Promkes Dikes NTB menjelaskan program kesehatan di tiap wilayah penting mendapat dukungan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat, seperti halnya Posyandu Keluarga yang terintegrasi dengan program lain. Posyandu keluarga dilaksanakan untuk melayani program posyandu dan program kesehatan lain dalam waktu dan tempat yg bersamaan, dan dilayani oleh tim yang sama, sehingga memudahkan pelaksanaan. Harapannya semua posyandu bisa dinaikkan dari strata posyandu Pratama menjadi Purnama atau Mandiri. Tentunya dengan memperhatikan 8 indikator posyandu.

Sementara itu Arini Retnowulan, SKM., mengungkapkan Posyandu Keluarga yang merupakan aplikasi dari program Revitalisasi Posyandu, merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Daerah NTB saat ini. Sehingga dalam setiap kesempatan yang ada Wagub NTB Dr. Ir.Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., selalu menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini sangat konsen terhadap program Posyandu Keluarga, sehingga diharapkan keaktifan kader sebagai SDM terdepan dalam meningkatkan pelayanan posyandu. Lebih lanjut, Retno panggilan akrabnya mengingatkan kepada semua pemangku wilayah binaan yang hadir saat itu, bahwa target untuk meningkatkan posyandu menjadi Strata Mandiri juga menjadi perhatian Wagub. Strata Posyandu Mandiri sendiri bisa diraih melalui upaya dana sehat swadaya masyarakat dengan terintegrasi program seperti bank sampah, dan sebagainya.

Lebih lanjut,
Peningkatan kapasitas kader juga penting diperhatikan, mengingat banyak kader yang diganti oleh karena dampak dari pergantian kepala desa atau hal lainnya. Oleh karenanya Dinas Kesehatan Provinsi NTB menindak lanjuti hal ini dengan sertifikasi kader.

Harapan untuk meningkatkan peran dan kapasitas kader ini juga menjadi perhatian Wagub NTB, ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Ida Ayu Ketut Triwidyatnyani, SKM., yang juga turut tim bimtek menyampaikan karena posyandu merupakan salah satu program prioritas, untuk itu perlu bagi kami mengevaluasi secara berkala bagaimana progress program posyandu yang dikelola di setiap wilayah. Pokja posyandu di desa sendiri merupakan binaan dari Kepala Desa bersangkutan. Jadi pembinaan pokja posyandu berjenjang menurut tingkat wilayah yang diampu. Lalu bagaimana kendala posyandu, sudah seyogyanya menjadi perhatian pemangku desa bersama masyarakat untuk mencari solusinya.

Kemudian disela sela diskusi, Arini kembali menegaskan dana kesehatan desa tidak terbatas pada sumber dana desa, bisa diselenggarakan melalui program jimpitan desa. Sementara SIP (Sistem Informasi Posyandu) perlu diinput oleh kader secara berkala, sehingga bisa mengetahui perkembangan dan status kesehatan bayi balita yg berada di wilayah binaannya.

Menanggapi arahan Tim Bimtek Posyandu Dinas Kesehatan Provinsi NTB tersebut, Mukhtar selaku Kepala Desa Motong Beter menyampaikan apresiasinya dan juga dukungannya terhadap program program kesehatan yang menjadi perhatian pemerintah tersebut. Ia berkomitmen akan mengalokasikan anggaran desa untuk tahun 2020 untuk program kesehatan. Lebih lanjut Ia menegaskan tidak akan ganti ganti kader selama kepemimpinanya, agar bisa secara maksimal melayani program kesehatan masyarakat di wilayahnya. Diketahui Desa Montong Beter dengan luas daerah 5 km persegi memiliki 8 posyandu, 40 kader, dan 600 sasaran bayi, balita.

Turut hadir dalam kunjungan bimtek posyandu tersebut antara lain Kepala Seksi Promkes Dikes Lotim, PLKB, DAI Kesehatan, Kader, Petugas Gizi, Perawat, dan Bidan Puskesmas Rensing. Dalam kesempatan itu pula, tim bimtek menyerahkan secara langsung lembar balik posyandu kepada Kepala Desa, dan juga dilakukan serah terima Buku Saku Germas, Lembar Balik Posyandu, serta Sertifikat Kader Terlatih untuk 1300 orang kader kepada Seksi Promkes Dikes Lotim.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.