Orientasi Penilaian Pertumbuhan Balita Anggkatan II TK Provinsi NTB

Kepala Dinas  Kesehatan Provinsi NTB dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS, membuka secara resmi kegiatan Orintasi Penilaian Pertumbuhan Balita Anggkatan II TK Provinsi NTB.

Penurunan stunting memerlukan intervensi spesifik dan sensitive yang dilaksanakan secara holistic, integrative, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi dan singkronisasi diantara Kementerian/Lembaga (K/L), Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah, Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, serta pemangku kepentingan. Di Indonesia penurunan stunting cukup signifikan dalam 10 tahun yaitu 36.8% di tahun 2007 menjadi 27.7% di tahun 2018. Meski telah terjadi penurunan namun prevaensi stunting tersebut masih tergolong tinggi. Selain masalah stunting, Indonesia juga memiliki masalah kekurangan gizi mikro ditandai dengan prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 48.9%.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sejak 2007 – 2018, angka prevalensi stunting tetap tinggi. Data Riskesdas 2013 menemukan 37,2% atau sekitar 9 juta anak balita mengalami stunting. Pada 2018, Riskesdas mencatat penurunan prevalensi stunting pada balita ke 30,8%. Namun demikian, angka ini masih tergolong tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar Provinsi NTB Tahun 2018  untuk balita usia 0-59 bulan menunjukkan bahwa Indeks berat badan menurut umur (BB/U) angka gizi kurang sebesar 18,85%, yang artinya bahwa Provinsi NTB berada pada kategori wilayah rawan gizi kurang.  indeks berat badan menurut panjang badan (BB/PB) atau tinggi badan (BB/TB), prevalensi Kekurusan (sangat Kurus dan kurus) sebesar 14,41% yang menunjukkan bahwa Provinsi NTB berada pada kategori wilayah rawan. Demikian pula untuk indeks panjang badan atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U), prevalensi kependekkan  33,49 % yang menunjukkan bahwa NTB merupakan wilayah dengan masalah stuntig tinggi.

Menyadari hal tersebut, perlu suatu upaya yang terarah sehingga peningkatan pemberian ASI dan pemantauan pertumbuhan balita secara terus menerus dapat dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat. Salah satu upaya tersebut antara lain dengan meningkatkan pengetahuan anggota keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat tentang pentingnya pementauan pertumbuhan khususnya kepada para tenaga kesehatan yang bergerak  dalam bidang pelayanan kesehatan ibu dan anak sehingga pemantauan pertumbuhan balita dapat dilaksanakan oleh petugas maupun kader sesuai dengan standar baru. Petugas Puskesmas khususnya petugas gizi puskesmas memegang peranan penting dalam tim posyandu puskesmas. Dengan adanya kegiatan Orientasi Penilaian Pemantauan Balita diharapkan tim posyandu puskesmas mempunyai pengetahuan yang sama dalam penyelenggaraan pemantauan pertumbuhan di posyandu.

Kegiatan ini bertujuan agar peserta mampu melakukan penilaian  penilaian Pertumbuhan Balita di posyandu dan di puskesmas. Pelaksanaan Kegiatan Orientasi Penilaian Pemantauan Balita dilaksanakan pada tanggal 1 s/d 4 September 2021  di Hotel Grand Legi Mataram proses orientasi dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab serta studi kasus. Hadir pula sebagai Narasumber sebanyak 5 orang dari Provinsi dan 1 orang dari Direktorat  Gizi Masyarakat Ditjen Kesmas Kementerian Kesehatan RI, sedangkan peserta pertemuan  Kepala Bidang Kesmas, Kepala Seksi Gizi dan Petugas penginput data e-PPGBM Tingkat Provinsi NTB.

Keluarannnya dari kegiatan ini di harapkan adanya kesamaan pemahaman dan   keterampilan dari peserta tentang Proses Penilaian Pertumbuhan Balita, Adanya Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari masing-masing Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota  dalam pelaksanaan  Proses Penilaian Pertumbuhan Balita, Adanya dukungan dalam pelaksanaan Proses Penilaian Pertumbuhan Balita sebagai salah satu pelayanan esensial di puskesmas serta dilaksanakannya Proses Penilaian Pertumbuhan Balita di posyandu dan puskkesmas. (Gizi-Promkes).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *