Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Pelatihan Konseling PMBA Bagi Petugas Kesehatan di Puskesmas Se-NTB

Resolusi World Health Assembly (WHA) No. 55.25 tahun 2002 tentang Global Strategy on Infant and Young Child Feeding, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJPMN) bidang Kesehatan dengan memberikan prioritas kepada perbaikan kesehatan dan gizi bayi dan anak. Untuk mencegah terjadinya penurunan status gizi bayi dan anak 6 – 24 bulan yang menderita gizi kurang menjadi gizi buruk dan mencegah stunting, sekaligus untuk mempertahankan status gizi baik pada bayi dan anak 6 – 24 bulan dari keluarga miskin.

Upaya peningkatan status gizi masyarakat tidak hanya cukup dengan meningkatkan perluasan jangkauan pelayanan saja, tetapi perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat khususnya para kader sebagai ujung tombak pelayanan. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para kader dalam membantu penanggulangan masalah gizi melalui pelatihan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), agar mampu mengatasi secara mandiri dalam menangani masalahnya.

Untuk memberdayakan ibu, keluarga dan masyarakat dalam praktek PMBA diperlukan seseorang baik kader maupun motivator yang berasal dari masyarakat untuk dapat membantu ibu, keluarga dan masyarakat dalam menerapkan PMBA yang optimal.

Dinas Kesehatan Provinsi NTB menyelenggarakan Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) untuk melatih tenaga kesehatan sebagai konselor PMBA selama 4 hari (mulai tanggal 15 – 18 Juni 2021 di Bapelkes Provinsi NTB dan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS. pada Selasa 15 Juni 2021.

Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penanganan masalah kesehatan ibu dan anak di NTB, meskipun dalam masa pandemi Covid 19 saat ini. Tersedianya tenaga bidan yang professional, yang mampu mengatasi kegawat-daruratan maternal neonatal, merupakan upaya strategis untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat tersebut. ”Upaya peningkatan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan profesional yang bermutu dan terjangkau bagi seluruh masyarakat, memerlukan adanya tenaga kesehatan yang ditugaskan secara penuh untuk melaksanakan kegiatan pengamatan, pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat”.

Beliau juga menekankan pentingnya penggunaan Buku KIA secara maksimal untuk merekam fase data ibu hamil, dari usia kehamilan masih muda sampai dengan bayi nya nanti lahir dan maksimal berumur 59 bulan (Balita).

Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode tatap muka dimana sebelum dilakukan kegiatan, peserta mengikuti protokol kesehatan dan diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan rapid antigen dengan hasil negatif.

Jumlah peserta pelatihan ini sebanyak 20 orang peserta yang berasal dari Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas di 10 Kabupaten/Kota se-NTB dan menghadirkan Narasumber dari Dinkes Provinsi NTB, Poltekes Mataram, Ahli Gizi dari BKD Kabupaten Lombok Utara dan Widyaiswara Bapelkes Provinsi NTB.

Diharapkan setelah pelatihan ini peserta mampu melakukan praktek pemberian ASI, Pemberian makan ibu hamil an menyusui, pemberian MP-ASI, melalukan pemantauan pertumbuhan serta melakukan konseling PMBA dan pada akhirnya dapat meningkatkan status gizi ibu dan anak.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.