Pelatihan Petugas Studi Monitor Studi Pemantauan Temperatur

Imunisasi merupakan salah satu program prioritas dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I). sehingga memerlukan cakupan yang tinggi dan merata.

Bukan hanya cakupan yang tingi dan merata yang harus mendapatkan perhatian tetapi kualitas dari vaksin juga harus dijaga. Mulai dari proses pengiriman vaksin dari pusat sampai dengan level posyandu. Dalam proses pengiriman dan penyimpanan vaksin yang benar adalah hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya pembekuan vaksin. Beberapa jenis vaksin seperti Pentavalent, Prevenar dan vaksin kombinasi lainnya, jika terpapar beku dapat mengakibatkan disasosiasi antigen dari ajuvan dan menurunkan potensi imunologis. WHO menyatakan bahwa vaksin tidak boleh terpapar temperatur beku dan jika sampai terjadi maka vaksin tidak boleh dipergunakan lagi. Temperatur vaksin harus tetap dijaga antara 2°C dan 8°C.

Hingga saat ini sistem distribusi vaksin belum mempunyai sistem pendataan yang menggambarkan bahwa benar vaksin selalu disimpan pada temperatur antara 2°C dan 8°C. Beberapa hal penyimpanan suhu yang tidak sesuai dengan standar seperti : peralatan pendingin yang tidak dirawat atau sudah lebih 10 tahun, kepatuhan petugas terhadap prosedur rantai dingin serta pemahaman petugas tentang bahaya pembekuan vaksin.  Oleh karena itu sangat penting menjaga suhu penyimpanan vaksin yang baik dan benar dapat menjaga kualitas vaksin  dan dapat menurunkan kejadian ikutan pasca imunisasi

Vaksin harus selalu tersimpan dalam suhu 2°C – 8°C sejak keluar dari Pusat sampai terdistribusi ke Posyandu agar tetap terjaga kualitasnya. Untuk melihat apakah suhu tetap terjaga dari Pusat  sampai diberikan di Posyandu maka Clinton Health Access Initiative (CHAI), dengan bantuan donasi dari Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) mengadakan studi pemantauan temperatur yang direncanakan dilakukan di Provinsi NTB yaitu provinsi yang merupakan  area kerja CHAI.

Studi akan dilakukan di 10 Kabupaten/Kota se NTB dengan masing-masing dipilih 2 Puskesmas per Kabupaten/Kota yang memenuhi kriteria yang ditetapkan agar terdapat variasi dalam hal jarak dan tingkat kesulitan untuk melihat apakah temperature tetap terjaga 2°C – 8°C. Di Provinsi NTB akan ditetapkan 20 Puskesmas dan 1 Rumah Sakit maka akan ditunjuk petugas yang akan memonitor studi di setiap level mulai dari  Pusat sampai Puskesmas dan akan dilatih agar semua mendapatkan pemahaman dan cara kerja yang sama.

Sehubungan dengan hal tesrsebut diatas, Dinas Kesehatan Provinsi NTb bekerjasama dengan CHAI menyelenggarakan Pelatihan Petugas Studi Monitor Studi Pemantauan Temperatur pada Selasa, 25 Mei 2021 di Hotel Aruna –NTB.

Peserta Pelatihan Petugas Studi monitor dari kemenkes (Koordinator studi temperature, Binwil NTB, PIC PCV), 1 orang dari biofarma (studi monitor nasional), Dikes Provinsi (Kabid P2P, Kasie P2P, Koordinator Imunisasi, Penanggung jawab cold chain Dinkes Prov (Petugas Studi Monitor Provinsi) serta Kabid P2P dan Penanggung jawab program cold chain 10 Dinkes Kabupaten/ Kota (Petugas Studi Monitor Kabupaten).  Dengan narasumber dari subdit imunisasi dan CHAI.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hingga saat ini sistem distribusi vaksin belum mempunyai sistem pendataan yang menggambarkan bahwa benar vaksin selalu disimpan pada temperatur antara 2°C dan 8°C. Beberapa hal penyimpanan suhu yang tidak sesuai dengan standar seperti : peralatan pendingin yang tidak dirawat atau sudah lebih 10 tahun, kepatuhan petugas terhadap prosedur rantai dingin serta pemahaman petugas tentang bahaya pembekuan vaksin.  Oleh karena itu sangat penting menjaga suhu penyimpanan vaksin yang baik dan benar dapat menjaga kualitas vaksin  dan dapat menurunkan kejadian ikutan pasca imunisasi.

Selanjutnya beliau juga menyampaikan terimakasi kepada Clinton Health Access Initiative Access Initiative (CHAI) yang  memfasilitasi Pertemuan Pelatihan Petugas Studi Monitor Studi Pemantauan Temperatur di Provinsi NTB,  Semoga Pertemuan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan output yang berguna untuk meningkatkan program imunisasi .

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan Petugas studi monitor di setiap level mengetahui tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan selama pelaksanaan studi pemantauan temperature, dapat memperlakukan kotak vaksin studi 1 dan kotak vaksin studi 2 sesuai dengan protocol studi serta meningkatkan kapasitas petugas studi monitor.         

Referensi : Hepatitis B vaccine freezing in the Indonesian cold chain: evidence and solutions. Bulletin of the World Health Organization 2004 :99-101.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *