Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Peningkatan Kapasitas Petugas P2 PISP Kabupaten Lombok Timur

Penyakit infeksi saluran pencernaan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah diare terutama pada kelompok usia bayi dan balita serta tifoid yang angka kesakitan dan kematiannya masih tinggi. KLB Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (Diare, Hepatitis A, Tifoid, Hand Foot and Mouth Disease) yang sering muncul dan menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Berdasarkan Riskesdas 2018 penggunaan oralit dan zink pada balita di masyarakat masih rendah yaitu oralit sebesar 34,8% dan zink 21,6%, selain itu dilaporkan terjadinya peningkatan Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan KLB diare masih terjadi dengan kematian yang tinggi. Pada Tahun 2019 KLB Hepatitis A terjadi di 9 Provinsi 17 Kab/Kota 21 lokasi dengan 3.485 kasus. KLB Diare terjadi di 3 provinsi 3 kab/kota pada 1.015 kasus dengan 6 kematian (CFR 2,2%).

Pada Tahun 2020 target indikator sebesar 51% atau 262 Kab/Kota yang diharapkan dapat melaksanakan tatalaksana diare balita sesuai standar. Capaian pada tahun 2020 adalah 44,2% atau sebesar 227 Kab/Kota yang 80% Puskesmasnya melaksanakan tatalaksana diare balita sesuai standar. Indikator Renstra Program PISP belum mencapai target yang diharapkan.

Cakupan layanan diare balita adalah target penemuan kasus diare balita berdasarkan target yang telah diberikan berdasarkan angka morbiditas diare balita Indonesia. Penemuan kasus diare balita masih jauh dari target yang diberikan. Pada tahun 2020 angka penemuan kasus sebesar 26,61% atau sebesar 1.051.972 dari target sebesar 3.953.716 balita diare.

Virus hepatitis B dan C merupakan salah satu infeksi virus yang sering terjadi di dunia apalagi di negara-negara berkembang Hepatitis kronik di seluruh dunia termasuk di Indonesia. World Health Organization (WHO) memperkirakan prevalensi penderita hepatitis C kronik sebesar 3% dari total populasi dunia atau sekitar 170 juta jiwa dimana terdapat penambahan 3-4 juta kasus baru setiap tahunnya.  Virus Hepatitis B telah menginfeksi sejumlah 2 milyar orang di dunia dan sekitar 350 – 400 juta orang hidup dengan Hepatitis B menahun dan mereka berisiko untuk mengalami sirosis (pengerasan hati),kegagalan hati, dan kanker hati.

Resiko Penularan hepatitis B secara vertikal dari ibu hamil kepada bayinya ternyata sangat besar. Hal ini tidak pernah diketahui oleh ibu hamil tersebut,kalau tidak di test HbsAg,sehingga perlu dideteksi dari sejak kehamilan. Penularan dari ibu ke bayi dapat dicegah dengan memberikan imunisasi hepatitis B dan HbiG pada usia kurang dari 24 jam.

Berdasarkan pertimbangan hal-hal tersebut di atas, maka perlu dikembangkan program pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Perncernaan (Diare, Hepatitis A, Tifoid, Hand Foot and Mouth Disease) salah satunya adalah dengan Peningkatan Kapasitas Petugas P2PISP.

Oleh karena itu Dinas Kesehatan Provinsi NTB melalui Seksi P2MZ Bidang P2P menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Peningkatan Kapasitas Petugas P2 PISP Kabupaten Lombok Timur Tingkat Provinsi NTB Tahun 2021 secara virtual  selama 3 hari (mulai tangal 15 – 17 Juni 2021) di Hotel Lombok Astoria Mataram.

Kegiatan ini ng diikuti oleh peserta dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur sebanyak 8 orang, dari Puskesmas  se-Kabupaten Lombok Tmur sebanyak 272 orang (8 orang masing-masing Puskesmas), dan peserta dari provinsi sebanyak 26 orang.

Tujuan  Kegiatan ini adalah :

  1. Penguatan Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan kabupaten/ Kota dan Puskesmas untuk implementasi Program PISP
  2. Tersosialisasinya Pencatatan, Pelaporan kasus PISP di Puskesmas dan Kabupaten/ Kota
  3. Penguatan jejaring terutama dengan lintas program yang ada di Puskesmas baik pengelola program PISP maupun dengan Lintas Program Lainnya

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS, pada hari Selasa, 15 Juni 2021.  Dalam sambutanya beliau menyampaikan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan sedang menyusun Logical Framework dalam rangka Reformasi Kesehatan 2020-2024, dimana dalam mencapai 5 Prioritas Nasional akan dilakukan dengan reformasi penguatan strategi :

  • Upaya Preventif dengan melakukan transformasi Puskesmas sebagai pilar kunci upaya Kesehatan masyarakat,
  • Penguatan upaya pelayanan Kuratif dengan meningkatan kualitas dan efisiensi,
  • Penguatan Ketahanan Kesehatan untuk dapat merespon potensi krisis Kesehatan dan
  • Dukungan tatakelola (enablers) yang kuat. Strategi Reformasi ini akan diterapkan berjenjang di setiap lini terdepan sampai dengan tingkat administratif untuk memperkuat Sistim Kesehatan kita.

Selanjutnya beliau menyampaikan bahwa dalam mewujudkan apa yang kita cita-citakan di atas, tentunya kita tidak dapat bekerja sendiri, dibutuhkan koordinasi dan kolaborasi lintas program dan lintas sektor serta didukung oleh anggaran yang adekuat. integrasi dan sinergi program kesehatan sehingga hasil yang kita dapatkan tentunya akan lebih bermakna.  

Dengan adanya pertemuan ini diharapkan dapat memningkatkan kemampuan petugas PISP Kabupaten  tentang tatalaksana dan Manajemen Program Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan, serta dalam dalam Pencatatan dan Pelaporan PISP sehingga dapat menekan angka kejadian penyakit infeksi saluran pencernaan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.