Pertemuan Manajemen Rantai Dingin Vaksin dan Logistik di Kabupaten Pulau Sumbawa, Provinsi NTB

Beberapa jenis vaksin seperti Pentavalent, Prevenar dan vaksin kombinasi lainnya, jika terpapar beku dapat mengakibatkan disasosiasi antigen dari ajuvan dan menurunkan potensi imunologis. WHO menyatakan bahwa vaksin tidak boleh terpapar temperatur beku dan jika sampai terjadi maka vaksin tidak boleh dipergunakan lagi. Oleh karena itu, peralatan pendingin (rantai dingin vaksin) yang berfungsi baik dan dapat menjaga suhu antara 2°C dan 8°C sangat penting dalam menjaga kualitas dan efektifitas vaksin dan menurunkan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI).

Peralatan pendingin yang tidak terawat atau ketinggalan zaman, kapasitas yang tidak cukup, kepatuhan yang kurang terhadap prosedur pemantauan rantai dingin, dan pemahaman yang kurang tentang bahaya pembekuan vaksin merupakan hal-hal yang dapat membuat peyimpanan vaksin tidak selalu tersimpan pada temperatur yang disarankan.

Untuk mendukung Subdit Imunisasi mensukseskan program introduksi PCV dan meningkatkan efisiensi penggunaan rantai dingin vaksin, Clinton Health Access Initiative (CHAI), dengan bantuan donasi dari Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) akan melakukan evaluasi temperature rantai dingin di Dinas Kesehatan Propinsi dan inventarisasi peralatan rantai dingin di Pulau Sumbawa.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, CHAI bersama Kementerian Kesehatan Subdit Imunisasi beserta Dinas Kesehatan Provinsi NTB pada tanggal 17-18 Maret 2021 melakukan workshop manajemen inventaris peralatan rantai dingin dan evaluasi kulkas vaksin.

Tujuan pertemuan ini meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pengelola program imunisasi dalam melakukan inventarisasi peralatan rantai dingin secara berjenjang dari tingkat Puskesmas dan Kabupaten di Pulau Sumbawa , melengkapi pengkinian data inventaris peralatan rantai dingin  di Provinsi NTB dan mengevaluasi temperature rantai dingin di dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten di Pulau Sumbawa dengan melakukan analisa download data log tag 3 bulan terakhir.

Peserta pertemuan terdiri dari pengelola rantai dingin dan logistik vaksin dari 64 Puskesmas di 7 kabupaten/kota Provinsi NTB.  Dalam pertemuan tersebut, Plt. Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi NTB : I Made Utama, SKM., M.Epid ., menyampaikan pencapaian indikator program imunisasi tahun 2019, update CC logistik sesuai dengan penambahan kulkas vaksin tahun 2019 di 10 kabupaten, vaccine carrier, jumlah kulkas yang rusak dan butuh perbaikan, rencana pengadaan tahun 2021, kecukupan kapasitas cold room dan kulkas vaksin di provinsi, sistem pencatatan pelaporan kartu temperature, serta data logger Log tag di Dinas Kesehatan Provinsi NTB.  sedangkan Subdit Imunisasi Kementerian Kesehatan RI menyampaikan update pengadaan rantai dingin nasional 2021 dan manajemen rantai dingin, dan CHAI menyampaikan presentasi data rantai dingin berdasarkan data CCEM  Puskesmas Kabupaten di Pulau Sumbawa.

Peserta pertemuan terdiri dari pengelola rantai dingin dan logistik vaksin dari petugas cold chain dari masing masing Puskesmas di Pulau Sumbawa sejumlah 72 petugas  yaitu Kab Sumbawa – 26 orang, Kabupaten Sumbawa Barat – 9 orang, Kabupaten Bima – 21 orang, Kota Bima – 7 orang dan Kabupaten Dompu – 9 orang yang dilaksanakan secara webinar.

Pertemuan dilanjutkan dengan kegiatan turun lapangan ke 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu untuk pemantauan kulkas vaksin. Dengan diadakanya pertemuan ini diharapkan data  invetarisasi rantai dingin dapat terkumpul dan di update di tingkat  puskesmas dan kabupaten di Pulau Sumbawa dan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten mengetahui kondisi rantai dingin dan cara melakukan analisa temperature kulkas vaksin dengan mengunakan alat monitoring kontinyu

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *