Sosialisasi dan Advokasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan Lintas Sektor Tingkat Provinsi NTB

Infeksi kecacingan dapat menyebabkan morbiditas dan kadang juga kematian sebagai akibat dari status gizi yang buruk, kerusakn kemampuan kognitif, dan menimbulkan sindrom klinis yang terkait dengan migrasi cacing, obstruksi usus, radang usus besar, dan dubur. Pengaruh terhadap kesehatan masyarakat yang paling utama adalah  pengaruh terhadap kasus gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif.

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi anak kerdil atau stunting yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Pemerintah telah menyusun kerangka besar intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting.

Salah satu intervensi  stunting adalah penanggulangan kecacingan dengan prioritas sasaran  ibu hamil dan anak usia 7 – 23 bulan. Untuk tahun 2018, intervensi stunting dengan penanggulangan kecacingan  dilaksanakan di 100 kabupaten/kota. Pemilhan 100 kabupaten/kota didasarkan atas kriteria jumlah dan prevalensi balita stunting yang dibobot dengan tingkat kemiskinan provinsi (desa-kota).

Provinsi NTB adalah salah satu provinsi yang memiliki kabupaten dengan angka stunting cukup tinggi. Dari 10 kabupaten/kota di Provinsi NTB, 50% adalah kabupaten dengan angka stunting cukup tinggi. Kabupaten dengan angka stunting cukup tinggi adalah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Utara dan Sumbawa, sehingga untuk tahun 2018 Provinsi NTB menjadi salah satu provinsi prioritas penanggulangan gizi spesifik penanggulangan kecacingan. Penanggulangan kecacingan tahun 2018 dilaksanakan dengan pemberian obat pencegahan massal  pada penduduk sasaran usia 1-12 tahun yang dilaksanakan 2x setahun dengan interval 6 bulan dan pemeriksaan cacingan kepada ibu hamil dengan gejala anemia dan pemberian obat cacing pada ibu hamil yang hasil pemeriksaannya positif telur cacing yang pemberiannya diberikan pada trimester kedua usia kehamilan. Pemberian obat cacing ini diharapkan dapat mendukung perbaikan status gizi anak, perbaikan perkembangan, kemampuan kognitif, perbaikan prestasi sekolah dan menjamin ibu hamil bebas cacingan.

Program ini diharapkan mendapat dukungan dari semua pihak mengingat besarnya dampak dari infeksi kecacingan terutama bagi anak-anak balita dan usia sekolah. Untuk mensosialisasikan program kecacingan dan mendapat dukungan dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan Provinsi NTB melalui dana dekonsentrasi TA.2018 mengadakan sosialisasi dan advokasi bagi lintas sektor. Kegiatan ini diadakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 11 s.d. 13 Maret 2018 di Hotel Lombok Plaza.

Kegiatan diikuti oleh 56 orang peserta, 40 orang peserta berasal dari kabupaten/kota terdiri dari seksi gizi, seksi P2P, pengelola program/wasor filariasis dan kecacingan beserta dinas pendidikan, dan 18 orang peserta provinsi (Bappeda, Dinas Dikbud, Biro Admin kesra, Kemenag, Dinas Perlindungan Perempuan,Perlindungan Anak, Pendendalian Penduduk dan KB, Balabkes, seksi Promkes, seksi PL, Seksi Surveilance, seksi farmasi, seksi gizi, seksi yankes primer dan kestrad, dan seksi kesga). Narasumber berasal dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ), dan narasumber provinsi (Kabid P3KL, Kepala Seksi P2P dan Pengelola Program P2PTVZ). Diharapkan dengan tersosialisasinya program filariasis dan kecacingan, program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan dapat terlaksana dengan baik dan intervensi stunting melalui penanggulangan kecacingan mendapat dukungan semua pihak.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook