TANYA JAWAB SEPUTAR VIRUS CORONA (COVID-19)

Menurut WHO, tidak boleh ada satu negarapun berasumsi tidak akan tertular COVID-19. Bisa fatal jika itu terjadi. Virus COVID-19 itu tidak punya Pasport atau butuh Visa. Mereka tidak mengenal batas negara/wilayah. Mereka juga tidak rasis, jadi tidak akan membedakan kewarganegaraan, suku bangsa, dan ras. Mereka juga tak mengerti tentang agama dan sekularitas, semua dipukul rata, tak perduli apa keyakinan orangnya, baik kaya atau miskin, pejabat maupun rakyat jelata.

Belum adanya kasus Covid-19 di Indonesia tidak boleh membuat kita jumawa. Itu harus dianggap sebagai hadiah dari Yang Kuasa karena diberi lebih banyak waktu untuk bisa mempersiapkan diri sehingga nantinya mampu beraksi positif jika benar-benar terjadi di halaman rumah kita.

Sejatinya, saat ini masyarakat membutuhkan keyakinan, jika pemerintah RI di semua tingkatan memiliki kapasitas dan kemampuan memadai tidak hanya dalam mencegah masuknya Covid-19, namun juga kesiapannya saat virus itu muncul. Otoritas dituntut harus mampu melakukan: deteksi dini, isolasi penderita, penelusuran sejarah kontak, penyediaan pelayanan medik berkualitas, mencegah ledakan dipusat-pusat perawatan, serta mencegah transmisi di level komunitas/masyarakat.

Mari kita jawab bersama pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan jujur. Jika ada yang tidak terjawab, berarti masih ada gap kesiapsiagaan kita menghadapi Covid-19.

1. Apakah kita siap untuk kasus pertama? Apa yang akan dilakukan jika COVID-19 datang? Apakah unit-unit isolasi kita siap? Cukupkah piranti medik oksigen kita? Ventilator, dan peralatan vital lainnya?

Jawab:

Untuk persiapan kasus Covid-19 yang dating, di NTB terdapat 2 (dua) RS yang ditunjuk untuk merawat, yaitu RSUD PROVINSI dan RSUD MANAMBAI. Ruang isolasi yang disiapkan pada dua RS tersebut bertekanan negatif,  telah siap dengan oksigen dan ventilator yang dibutuhkan termasuk alat pelindung diri bagi petugas.

2. Bagaimana kita tahu jika di waktu yang bersamaan, kasus tidak terjadi di area lain di wilayah kita? Bagaimana sistem pelaporan yang kita bangun? Bagaimana caranya menyampaikan kesiapsiagaan kepada masyarakat?

Jawab:

1) Kita mempunyai 8 kantor KKP yang menjaga pelabuhan diseluruh NTB dan di 3 (tiga) bandara.

2) Laporan dibuat dari tempat deteksi ke puskesmas dan diteruskan ke atas, proses rujukan dilakukan oleh Tim TGC (Tim Gerak Cepat) kabupaten/kota.

3) Untuk Koordinasi telah dibentuk pusat kewaspadaan Corona NTB, yang diketuai oleh Aisten Pemerintahan dan Kesra, dengan anggota Dinas dan Badan yang terkait, dan mengerjakan pencegahan dan penanggulangan Corona sesuai tupoksinya.

 4) Untuk kesiap siagaan masyarakat dilakukan melalui berbagai sosialisasi dan media. Alhamdulillah kesadaran masyarakat terutama yang pulang dari negara terdampak cukup baik. Mereka melaporkan diri ke pusat kewaspadaan Corona NTB, sehingga bisa kita tindak lanjuti sesuai keadaan pasien.

 3. Apakah pekerja kesehatan kita cukup terlatih dan berperalatan memadai untuk menjaga keselamatannya? Bisakah petugas kesehatan kita mengambil sampel untuk pemeriksaan Covid-19 dengan baik dan benar?

Jawab:

1) Petugas kesehatan akan bekerja sesuai SOP dengan memakai APD (Alat Pelindung Diri) yang memadai serta selalu melaksanakan cuci tangan pakai sabun/hand sanitizer.

2) Untuk pemeriksaan sampel Covid-19 dilakukan oleh petugas terlatih di ruang isolasi.

4. Apakah kita menerapkan perlakuan yang tepat (uji Covid-19) terhadap orang-orang yang ditemukan sakit saat masuk ke wilayah kita via airport/pelabuhan?    

Jawab:

Pasien suspek Covid-19 yang ditemukan segera dikirim ke ruang isolasi RS yang ditunjuk.

5. Apakah laboratorium kita memiliki fasilitas/perlengkapan dan skill teknis memadai untuk uji sampel Covid-19?

Jawab:

Petugas laboratorium akan mengambil sampel, melakukan packing dengan aman agar tidak rusak dalam proses pengiriman ke Litbangkes.

6. Apakah kita siap menangani pasien dengan klinis Covid-19 yang berat?

Jawab:

Pasien Covid-19  ditangani di ruang isolasi RS. Jika membutuhkan perawatan lanjut dan pasien transpirable, dapat dirujuk ke RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso di Jakarta.

7. Apakah RS dan klinik kita sudah menerapkan prosedur yang memadai/standar untuk mencegah dan mengontrol infeksi Covid-19?

Jawab:

Penanganan pasien suspek Covid-19 dilakukan terpisah, termasuk perawatan di ruang isolasi, dan pemakaian  APD standar oleh petugas kesehatan yang merawat.

8. Apakah masyarakat memperoleh informasi yang benar tentang Covid-19? Apakah mereka tahu ciri-ciri penyakit ini? Ingat: klinisnya bukanlah leleran hidung. 90% kasus dengan demam, dan 70% batuk kering.

Jawab:

Gejala Covid-19 disebarkan disemua media dan melalui penyuluhan oleh petugas kesehatan sampai di tataran puskesmas.

Gejala umum:

1. Pulang dari negara terdampak

2. Demam

3. Batuk  kering dan pilek

4. bisa disertai sesak nafas

9. Apakah kita sudah siap berperang dengan berita-berita HOAX (sekaligus mengendalikannya)?

Jawab:

Dalam tim yang ada di NTB terdapat Dinas Kominfotik NTB dan Biro Humas Pemerintah Provinsi NTB, yang akan membantu dalam mengendalikan berita hoax.

10. Mampukah kita memotivasi/meyakinkan orang-orang kita dan masyarakat agar sejalan dengan kita dalam memerangi Covid-19 ini?

Jawab:

Dari pengalaman selama 1 bulan ini, kerjasama masyarakat dengan petugas terkait Covid-19 semakin membaik, dan kita berharap ini berjalan terus.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook