Dinkes NTB Adakan Workshop Deteksi Dini Penyakit Paru Obstruktif (PPOK) Bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit yang sering ditemukan pada usia diatas 40 tahun, yang ditandai oleh adanya hambatan aliran udara di saluran nafas yang menyebabkan terjasinya sesak. Penyakit ini sering mengalami penyulit berupa gangguan pernapasan yang berat, seringnya eksaserbasi, komorbid sehingga dapat menyebabkan kualitas hidup yang memburuk dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Saat ini PPOK menempati peringkat keempat dalam kontribusi penyebab kematian dan diprediksi akan meningkat menjadi peringkat ketiga pada 20 tahun kedepan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah perokok dan polusi udara sebagai faktor risiko PPOK yang utama.
Selain itu secara umum 60-85% penderita PPOK tidak mengetahui penyakitnya, di Indonesia masih banyak pasien PPOK yang tidak mengetahui kalau dirinya menderita PPOK. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan kegiatan deteksi dini dan diagnosis PPOK secara terintegrasi dan fokus pada faktor risikonya.
Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi NTB melalui Seksi P2PTM, Keswa dan Napza Bidang P2P menyelenggarakan Workshop Deteksi Dini Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) secara daring pada hari Jumat, 16 Desember 2022.
Kegiatan yang diikuti oleh oleh 120 peserta dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas se-NTB dilaksanakan untuk penguatan kualitas SDM secara persuasive dalam mendukung capaian indikator RenstraTahun 2020–2024 yaitu jumlah kabupaten/kota yang telah menerapkan deteksi dini PPOK yang minimal 50% di wilayahnya.
