Website Resmi Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Workshop Imunisasi Kejar (Catch Up Immunization) di Provinsi NTB

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan pengadaan vaksin PCV melalui skema advance market commitment (AMC) dari Gavi untuk memenuhi kebutuhan di seluruh provinsi secara bertahap sesuai rencana perluasan. Sediaan vaksin yang baru ini berupa multi-dose vial (tiap vial berisi 4 dosis), berbeda dengan sediaan sebelumnya yang berupa 1-dose pre-filled syringe.  

Pada tahun 2017 hingga 2019, telah dilaksanakan program demonstrasi PCV secara bertahap di Provinsi NTB. Selama periode tersebut, cakupan imunisasi PCV rata-rata mencapai 80% dan tidak ada kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI) serius yang dilaporkan. Namun menjelang akhir tahun 2019, stok vaksin PCV mulai mengalami kekosongan sehingga kegiatan imunisasi PCV di Provinsi NTB harus berhenti sejak awal 2020.

Karena imunisasi PCV sudah terhenti selama satu tahun, maka perlu dilakukan imunisasi kejar (catch-up immunization) bagi anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi PCV selama periode kekosongan vaksin di Provinsi NTB. Imunisasi kejar penting untuk dilakukan guna memastikan perlindungan yang kontinu terhadap anak dan masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Terkait dengan hal tersebut maka Clinton Health Access Initiative Access Initiative (CHAI) Provinsi NTB menyelenggarakan Workshop Imunisasi Kejar untuk mensosialisasikan tentang pengertian dan kegiatan yang perlu dilakukan dalam imunisasi kejar serta petunjuk pemberian imunisasi kejar kepada pihak terkait, terutama Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas yang ada di Provinsi NTB.

Tujuan dilakukanya workshop ini adalah untuk memberikan informasi mengenai pentingnya melakukan imunisasi kejar dan praktek cara melakukan pelacakan defaulters untuk imunisasi rutin dan khususnya PCV, memberikan pemahaman mengenai petunjuk pemberian imunisasi kejar PCV serta tersedianya data defaulters imunisasi rutin dan PCV di Provinsi NTB 3 minggu setelah kegiatan.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS. Pada sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Imunisasi PCV sudah terhenti selama satu tahun, sehingga perlu dilakukan catch-up immunization bagi anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi PCV selama periode kekosongan vaksin di Provinsi NTB. Catch up sangat penting untuk dilakukan guna memastikan perlindungan yang kontinu terhadap anak dan masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi kepada pihak terkait, terutama Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas di Provinsi NTB tentang pengertian dan kegiatan yang perlu dilakukan dalam catch up serta petunjuk pemberiannya.

Beliau juga menyampaikan bahwa Provinsi NTB telah melaksanakan vaksinasi Covid-19 dengan target sasaran 3.057.309 orang, dan sampai tanggal 30 Maret 2021 capaian vaksinasi covid sebesar  113.464 untuk dosis I dan 47.107 untuk dosis kedua dengan sasaran pelayanan public, tenaga kesehatan dan lansia.Pada kesempatan ini juga kadikes menyampaikan ucapan terimakasih kepada CHAI yang telah memfasilitasi kegiatan ini sehingga  dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan output yang berguna untuk meningkatkan program imunisasi di NTB.

Pelaksanaan kegiatan ini selama 2 hari dari tanggal 31 Maret s/d 1 April 2021 yang dikuti oleh  Pengelola Program Imunisasi dari Dinas Kesehatan 10 Kabupaten/Kota dan Provinsi NTB secara tatap muka serta pengelola program imunisasi dari puskesmas sejumlah 175 peserta melalui  zoom meeting di tempat masing-masing, dan sebagai narasumber dari Clinton Health Access Initiative Access Initiative (CHAI), dr. Niken, Kasie SIK, I Made Utama, SKM., M.Epid dan Subbid Imunisasi : Sekar Astika, SKM.

Imunisasi kejar penting diberikan kepada anak-anak dengan serial imunisasi yang terputus atau belum mendapat imunisasi sama sekali. Hal ini bertujuan untuk mencapai kadar proteksi individu terhadap penyakit menular, sehingga dapat menekan kejadian berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Editor : Reny Yuli Aspiani

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.