Dinas Kesehatan Provinsi NTB menyelenggarakan kegiatan Join Meeting TBC-HIV Tingkat Provinsi NTB tahun 2025 pada Rabu - Jumat, 8 – 10 Oktober 2025 di Kota Mataram.
Berdasarkan hasil diskusi para pengelola program TBC-HIV baik Provinsi maupun Kabupaten/kota dalam kegiatan ini, disepakati bahwa peningkatan kualitas layanan TBC-HIV akan dilakukan dengan memastikan setiap pasien HIV sudah diskrining TBC dan pasien TBC sudah diskrining HIV pada setiap layanannya. Selain itu, setiap pengelola program TBC-HIV harus dapat membangun komunikasi yang baik dalam mengkaji setiap pasien TBC yang datang ke fasyankes. Pengelola program juga perlu memperkuat koordinasi dengan komunitas seperti PKBI dan Yayasan Inset dalam meningkatkan layanan TBC dan HIV. Perlu juga dilakukan supervisi dan bimtek pelayanan HIV dan TBC secara terpadu ke faskes pemerintah dan swasta.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS., menegaskan pentingnya penanganan terintegrasi antara TBC dan HIV mengingat kedua penyakit ini memiliki keterkaitan erat, di mana infeksi TBC menjadi penyebab utama kematian pada orang dengan HIV/AIDS. Kolaborasi lintas sektor antara tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan komunitas menjadi kunci dalam upaya memperluas deteksi dini, meningkatkan kepatuhan pengobatan, dan mengurangi angka kematian akibat koinfeksi TBC-HIV.
“Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan Provinsi NTB berharap dapat memperkuat implementasi program penanggulangan TBC-HIV, memastikan pelayanan kesehatan yang inklusif, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya skrining, pencegahan, dan pengobatan secara menyeluruh,” ungkapnya.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mewujudkan NTB Sehat dan bebas TBC-HIV menuju Indonesia Emas 2045.
