Apa itu Stunting dan Bagaimana Ciri-Cirinya?
Ketika seorang anak memiliki tinggi di bawah standar usianya, bisa jadi ia mengalami kondisi gagal tumbuh yang disebut Stunting. Namun, diagnosa tersebut tidak bisa semata-mata disematkan. Butuh pemeriksaan dan analisa lanjutan dengan mengenali ciri-ciri Stunting. Agar lebih akurat, sebaiknya berkonsultasi dengan petugas kesehatan atau Dokter Spesialis Anak untuk menegakkan diagnosis.
Anak yang sekilas dari proporsi tubuh cenderung normal tetapi tampak lebih kecil, serta berbadan lebih pendek dari anak seusianya merupakan salah satu ciri-ciri anak yang mengalami stunting. Ciri lainnya ditandai dengan berat badan lebih rendah untuk anak seusianya dan pertumbuhan tulang tertunda. Perbedaan lain yang tidak terlihat antara anak yang stunting dengan yang tidak adalah otak anak stunting tidak terbentuk dengan baik atau perkembangannya terganggu, sehingga akan memengaruhi kecerdasan anak. Dalam jangka Panjang, stunting yang tidak ditangani sedini mungkin dapat menurunkan kemampuan perkembangan kognitif otak anak, kekebalan tubuh lemah sehingga mudah sakit, dan berisiko lebih tinggi terkena penyakit metabolik, penyakit jantung, penyakit pembuluh darah dan kesulitan belajar.
Faktor penyebab Stunting adalah kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu lama, paparan infeksi yang berulang, serta kurangnya stimulasi sehingga dapat mengganggu perkembangan metabolisme anak.
Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting?
Apabila menelisik lebih jauh, stunting sesungguhnya perlu dicegah bahkan jauh sebelum seorang ibu melahirkan bayi. Stunting dapat dicegah mulai saat seorang perempuan memasuki usia remaja sebagai bentuk intervensi spesifik pencegahan stunting. Kesehatan dan status gizi remaja perempuan harus dipersiapkan dengan baik, terutama dalam pencegahan anemia.
Mengapa anemia? Pada awal periode menstruasi, remaja putri membutuhkan zat besi lebih banyak untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan reproduksinya. Remeja putri lebih rentan terkena anemia karena adanya siklus menstruasi yang menyebabkan kehilangan darah dan zat besi setiap bulannya. Inilah yang menjadi salah satu alasan remaja putri rentan terkena anemia atau kurang darah sehingga menyebabkan penderitanya mengalami lelah, letih, lesu, dan bahkan dapat berdampak pada produktivitas termasuk masalah kesuburan.
Remaja putri yang menderita anemia berisiko menjadi wanita usia subur yang anemia, kemudian menjadi ibu hamil anemia, bahkan juga mengalami kurang energi protein yang akan meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan stunting, komplikasi saat melahirkan, serta beberapa risiko terkait kehamilan lainnya.
Pencegahan anemia sebagai bentuk intervensi spesifik stunting dapat dilakukan dengan menjaga asupan gizi seimbang, cukupi kebutuhan buah dan sayur, rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) satu tablet setiap minggunya dan lakukan pemeriksaan kadar HB atau tes darah minimal satu tahun sekali.
Intervensi stunting selanjutnya dapat dilakukan pada masa kehamilan dengan tetap menjaga asupan gizi seimbang, mengonsumsi TTD dan pemberian makanan tambahan. Ibu hamil sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan rutin minimal 6 kali untuk mengetahui berat dan tinggi bayi di dalam kandungan.
Penting untuk melakukan pencegahan stunting pada 1000 hari pertama anak yang biasa disebut masa atau periode emas. Mulai dari saat anak di dalam kandungan hingga saat anak berusia dua (2) tahun. Fase emas yang juga fase kritis ini sangat menentukan bagaimana tumbuh kembang anak ke depannya. Ketika anak lahir, sangat penting untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi hingga usia enam bulan sebagai sumber nutrisi berkualitas yang optimal. Pada masa ini, anak tidak perlu diberikan makanan tambahan. Barulan kemudian setelah enam bulan, anak bisa diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bernutrisi dan bergizi seimbang hingga berakhirnya masa emas yakni usia dua tahun. Pertumbuhan anak pada masa ini juga perlu dipantau di Posyandu sebagai langkah startegis mencegah gangguan pertumbuhan dengan dibantu oleh tenaga kesehatan.
Bagaimana jika anak terlanjur memiliki ciri-ciri stunting?
Apabila ciri-ciri stunting dialami anak sebelum usia dua tahun, orang tua dapat mengoptimalkan pemberian ASI termasuk dengan memerhatikan posisi saat ibu menyusui dengan memastikan kepala dan mulut bayi melekat pas pada payudara.
Selain itu saat bayi berusia 6 bulan, MPASI yang diberikan harus mengandung gizi seimbang dan lengkap, terutama protein hewani. Berikan cukup protein hewani sedini mungkin, seperti ikan, telur, susu, daging ayam dan daging sapi, untuk mendukung tumbuh kembang optimalnya.
Penting juga untuk melalukan imunisasi lengkap bagi anak dengan tujuan melindungi dari berbagai penyakit, karena kekebalan tubuh anak masih lemah. Anak yang sering sakit lebih rentan terkena stunting karena gizi dan energinya lebih banyak digunakan untuk pemulihan daripada pertumbuhan.
Orang tua juga perlu untuk rutin memantau tumbuh kembang anak, termasuk dengan membawanya ke posyandu atau fasilitas kesehatan secara berkala untuk memantau status gizinya, sehingga jika mengalami hambatan atau gagal pertumbuhan, anak bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Salah satu hal yang tidak kalah penting dalam pencegahan stunting adalah dengan tetap menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Di sinilah peran seluruh anggota keluarga bisa dilakukan. Jagalah kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk penggunaan jamban sehat karena sanitasi yang buruk bisa menimbulkan banyak masalah kesehatan. Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah makan dan setelah buang air besar atau kecil. Penyakit yang timbuk akibat lingkungan yang kotor misalnya diare, dapat menyebabkan anak kekurangan gizi, sehingga rentan terhadap stunting.
Sumber:
Cegah Stunting Itu Penting. 2022. Diakses pada 9 Mei 2025 dari https://ayosehat.kemkes.go.id/cegah-stunting-itu-penting
Peran Ibu dalam Mencegah Stunting Sejak Masa Sekarang. 2024. Diakses pada 9 Mei 2025 dari https://ayosehat.kemkes.go.id/peran-ibu-cegah-stunting#:~:text=Ciri%2Dciri%20Anak%20Stunting,Badan%20Kesehatan%20Dunia%20(WHO).
Tarmizi. 2022. Intervensi Pencegahan Stunting Dimulai Sebelum dan Saat Kehamilan. Diakses pada 9 Mei 2025 dari https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20221214/0042022/intervensi-pencegahan-stunting-dimulai-sebelum-dan-saat-kehamilan/
Widyawati. 2021. Saat Remaja Menderita Anemia, Ibu Hamil Berisiko Lahirkan Anak Stunting. Diakses pada 9 Mei 2025 dari https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20210122/5236847/saat-remaja-menderita-anemia-ibu-hamil-berisiko-lahirkan-anak-stunting/