Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar Pertemuan Sosialisasi Akselerasi Deteksi Dini Kanker Serviks, sebuah langkah strategis untuk mempercepat pencapaian eliminasi kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Mataram dari tanggal 27-29 November 2025 ini diikuti oleh perwakilan Dinas Kesehatan kabupaten/kota, dokter/bidan puskesmas, serta para pemangku kepentingan lintas sektor.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan NTB, H. Badarudin, S.Kep., Ns., MM., yang menyampaikan pentingnya percepatan deteksi dini sebagai upaya menyelamatkan perempuan NTB dari ancaman kanker serviks. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa komitmen kuat daerah menjadi kunci keberhasilan untuk mengejar target ambisius nasional maupun global.
“Kanker serviks adalah penyakit yang sangat dapat dicegah. Tantangan terbesar kita saat ini adalah rendahnya cakupan skrining. Dengan memperkuat SDM, memperluas akses layanan, dan meningkatkan mobilisasi masyarakat, kita mampu mempercepat eliminasi kanker serviks di NTB,” ujar beliau dalam sesi pembukaan.
Pertemuan ini membahas kebijakan dan strategi percepatan program melalui pendekatan komprehensif, mulai dari imunisasi HPV, skrining dengan metode co-testing (Tes DNA HPV dan IVA), tatalaksana lesi prakanker di puskesmas, hingga penguatan sistem rujukan bagi kasus yang memerlukan penanganan lanjutan. Peserta juga mendapatkan penguatan kapasitas terkait pemanfaatan platform digital ASIK CKG, optimalisasi pembiayaan, serta integrasi program di tingkat layanan primer.
Melalui kegiatan ini, Dinkes NTB menegaskan kembali peta jalan percepatan eliminasi kanker serviks menuju tahun 2030, yang mencakup fase akselerasi pada 2025, konsolidasi sistem pada 2026–2027, optimalisasi program pada 2028–2029, hingga pencapaian target 90-70-90 WHO pada 2030.
Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum penting bagi seluruh aktor kesehatan untuk memperkuat sinergi dalam kerangka Pentahelix, melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, akademisi, dan media.
“Setiap langkah deteksi dini yang kita lakukan hari ini adalah investasi untuk melindungi perempuan NTB dan generasi mendatang. Mari bergerak cepat, bersama, dan berkelanjutan,” tutup H. Badarudin dalam seruannya kepada seluruh peserta pertemuan.
