Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan Workshop Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) untuk Mendukung Desa Berdaya di Desa Tetebatu, Kabupaten Lombok Timur, pada Kamis (23/4). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan peran masyarakat dalam sistem kewaspadaan dini terhadap potensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit di tingkat desa.
Workshop tersebut dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat desa, antara lain kepala desa, ketua PKK, kepala dusun, kader kesehatan, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Keterlibatan lintas elemen ini diharapkan mampu membangun kolaborasi yang kuat dalam mendukung implementasi surveilans berbasis masyarakat secara efektif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menjadi pilot project yang dapat direplikasi di desa lainnya. Ia menekankan pentingnya peran aktif masyarakat, khususnya individu yang memiliki pengaruh di lingkungan desa, dalam melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi penyakit.
“Dengan adanya deteksi dini, kita dapat lebih cepat melakukan langkah pencegahan sehingga risiko terjadinya wabah dapat diminimalisir,” ujarnya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa deteksi dini terhadap penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB harus diimplementasikan melalui komunikasi yang efektif di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penguatan kapasitas masyarakat dalam mengenali gejala awal penyakit serta mekanisme pelaporan menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan NTB berharap terbentuk Tim Surveilans Berbasis Masyarakat yang responsif sebagai fondasi dalam mewujudkan Desa Berdaya yang tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan.