Saat ini, sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan. Angka ini akan terus meningkat apabila tidak ada intervensi yang tepat. Faktanya, 80% gangguan penglihatan seharusnya dapat dihindari. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Lokakarya Penguatan Akses Layanan Refraksi di Indonesia di Gama Tower, Jakarta Selatan.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan sejak Rabu hingga Kamis (01-02 Oktober 2025) ini, Dr. Fikri mengungkapkan sebanyak 4% tingkat kebutaan di NTB perlu ditanggulangi melalui layanan mata komprehensif. Salah satu upaya Provinsi NTB dalam penanganan gangguan penglihatan adalah melalui Vision Center. Vision Center merupakan layanan mata komprehensif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang dirancang khusus untuk mengatasi masalah kebutaan di NTB.
“Ada 14 fasilitas pelayanan mata atau Vision Center di FKTP yang beroperasi sejak 2019 di NTB, dengan 300 tenaga kesehatan yang telah mendapat pelatihan Vision Center,” ungkapnya.
Beliau menambahkan, 78,1% penyebab utama kebutaan di NTB adalah Katarak, diikuti oleh penyakit Segmen Posterior sebanyak 7,5%, dan Glaukoma 3,8%.
Pemerintah Provinsi NTB mengupayakan penanggulangan gangguan penglihatan melalui peningkatan akses dan efektivitas layanan, menjalin kemitraan dengan stakeholder, serta melalui strategi keberlanjutan, termasuk melalui Vision Center yang saat ini tersebar di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. Hal ini mencerminkan upaya pemerataan akses layanan mata di NTB, dengan fokus bertahap dari wilayah padat ke daerah terpencil.
Vision Center berfungsi sebagai gatekeeper untuk memobilisasi pasien ke operasi katarak. Data dari VC Pusk Bagu menunjukkan peningkatan substansial dalam rujukan pasien. Keberhasilan ini didukung oleh program Desa Sehat Mata dan pemanfaatan ambulans desa untuk mobilisasi, memastikan pasien yang teridentifikasi benar-benar sampai ke layanan operasi.
“Dengan komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan, Vision Center akan menjadi tulang punggung sistem kesehatan mata yang kuat dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat,” ungkap Dr. Fikri.
