Bappeda bersama Dinas Kesehatan Provinsi NTB melaksanakan Kegiatan Diseminasi Kegiatan Survei Evaluasi Stunting di Provinsi NTB, Selasa (29/10) di Aula Bhakti Husada Dinkes NTB.
Sekda Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si., didampingi Kadinkes NTB, Dr.dr.H.L.Hamzi Fikri, MM., MARS.,
dan Ir. H. Rosiady Husaenie Sayuti, M.Sc, P.hD., selaku Tim Ahli memimpin dan memberikan arahan pada acara tersebut.
Mik Gite, panggilan akrab Sekda menyebut terdapat 7 program prioritas. Satu di antaranya pemberian makanan gratis. Program ini tentunya harus dijalankan dengan memperhatikan kemampuan daerah dan tetap memperhatikan kecukupan gizi dari makanan yang akan dibagikan.
Lebih lanjut, Mik Gite menyebut untuk menuju NTB Emas 2045 harus fokus dalam penurunan angka stunting. Masih adanya praktik "merarik kodeq" atau disebut juga dengan perkawinan anak perlu menjadi perhatian.
Salah satu caranya dengan terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai media dan menekankan berbagai dampak yang timbul dari praktik perkawinan anak, salah satunya risiko melahirkan anak dengan kondisi stunting.
Hal serupa diutarakan Kadikes, Dr. Fikri, dengan menyebut persioalan stunting ini adalah hal yang cukup kompleks. Perlu membagi tugas dan kerja sama serta sinergitas yang kuat lintas program dan sektor, khusus untuk penurunan
stunting di NTB.
Beliau menambahkan, edukasi pada masyarakat tentang masalah gizi perlu diperkuat dengan melibatkan tokoh-tokoh lokal dan remaja putri sebagai sasara utama jangka panjang.
"Harapannya Bappeda mampu responsif dengan kegiatan-kegiatan seperti ini dan memperkuat koordinasi dengan OPD yang lain," tutup Dr. Fikri.